Sightseeing di Kota Tua, Jakarta

Libur natal dan tahun baru 2012, kali ini aku habiskan bersama keluarga, yaitu Kakak, Papa, dan Mama., di Jakarta. “Jakarta, apa ya yang bisa dikunjungi di kota yang sesak ini?”, pertanyaan ini terbesit di dalam pikiranku. Hal yang aku bayangkan tentang Jakarta adalah kota lautan manusia, dimana saat siang hari penduduknya 9 juta jiwa, pada malah hari 5 juta jiwa. “Lha, 4 juta orang tadi siang hilang kemana??”. Mereka adalah penduduk yang bangun di pagi buta, berangkat dari bekasi dan tangerang di pagi buta saat anak-anak mereka masih tidur, lalu pulang jam 8 malam disaat anak mereka sudah ngantuk.  Jujur, aku tidak bisa membayangkan hidup seperti itu. Tetapi begitulah realitanya.

Oke, kita balik ke topik awal. Dengan persepsi yang seperi itu, aku bingung  akan pergi kemana dengan papa dan mama ditengah kota yang manusianya berserakan dimana-mana. Googling, itu lah hal yang aku lakukan. Mr Google mengatakan Kota Tua merupakan tempat yang wajib dikunjungi. Baiklah, aku memutuskan untuk pergi ke daerah Kota Tua. Kota Tua berlokasi di dekat stasiun kota Jakarta, dimana stasiun ini juga merupakan bangunan tua.

Ditengah hiruk pikuk kota Jakarta, ternyata ada satu lokasi yang membuat kita berasa bukan di Jakarta. Kota Tua, sesuai dengan namanya, suatu area yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial Belanda. Disini suasananya seperti berada di Eropa, sayangnya Eropa versi pasca banjir bandang. Sebab bangunannya tidak terawat dengan baik, pedagang kaki lima berjejer di pinggir bangunan menawarkan berbagai macam makanan sampai kacamata reben.

Tetapi saat ini aku mengabaikan kondisi yang tidak nyaman di mata ini, mataku tertuju pada sebuah bangunan gigantik yang terawat dengan baik dengan arsitektur abad pertengahan eropa, tertulis disana “Museum Bank Indonesia” . Dibandingkan dengan bangunan yang ada di Kota Tua lainnya, bangunan ini paling rapih. Tanpa pikir panjang aku langsung “hadap kiri, grak!”, masuk ke pekarangan bangunan ini.

Museum ini terasa sejuk sekali, bangunan dengan arsitektur Eropa ini mempunyai ruangan dengan tinggi lebih dari 4 meter, makanya terasa sejuk. Dinding yang tebal, setara dengan 4 kali tebal dinding rumahku, membuat dinding in menyerap radiasi panas matahari. Apalagi seluruh ruangannya di tiup oleh AC, terasa sejuk sekali. Seolah-olah aku sedang berada di oase tengah padang pasir. Di luar bangunan ini, suhu mencapai 34 derjat celcius, dengan kelembaban udara tropis yang tinggi, membuat udara terasa sangat panas. Rasanya aku mau menghabiskan hari di dalam bangunan ini saja.

Tidak ada entrance fee, semua pengunjung dapat masuk tanpa harus membayar sepersenpun. Wajar, masa BI minta duit?. Oh ya, museum ini dikelola oleh Bank Indonesia. Saat masuk ada pengecekan tas menggunakan metal detector, lalu kita wajib menitipkan tas di tempat penitipan. Lagi-lagi, tidak diminta uang seribu untuk jasa penitipan ini.

Saat masuk ruangan lobby, terlihat loket-loket berjejeran. Loket-loket ini lebih mirip dengan ruangan besuk narapidana di penjara Amerika. Mungkin loket ini dulunya digunakan untuk melayani urusan transaksi keuangan. Lalu aku melangkah keruangan dalam, terlihat patung-patung yang menjelaskan kegiatan di ruangan ini dulunya. Terlihat compeni-compeni sedang melakukan transaksi. Imaginasiku membuatku geram, pasalnya aku membayangkan compeni ini mandi uang, sedangkan rakyat Indonesia bermandikan darah dan keringat memperjuangkan hak-hak mereka.

Museum BI

compeni melakukan transaksi

Di dalam museum ini terdapat banyak patung seperti diatas, terlihat bahwa semua pajangan ini hendak menjelaskan aktifitas yang pernah terjadi di bangunan tua ini.

Menangkap uang koin yang jatuh dari loteng, inilah yang saya lakukan saat masuk ke suatu ruangan. Ada koin tahun 1900an sampai koin tahun 2000an. Tetapi saat tangan kita menyentuh koin ini, dia akan menghindar, sehingga sangat susah menangkapnya. Lha, seperti mandi uang dong? tunggu dulu, koin ini bukan koin sebenarnya, ini hanyalah proyeksi dari LCD proyektor ke dinding ruangan. Lebih tepat disebut sebagai game komputer, virtual reality.

Di ruangan yang lain, terdapat lukisan raksasa. Lukisan tersebut menggambarkan kedatangan kapal-kapal Belanda ke pelabuhan sunda kelapa, Batavia. Betapa hebatnya kerajaan Belanda, bisa mengarungi lautan yang ganas dengan kapal yang didorong oleh angin, bahkan belum ada komputer yang membantu navigasi.

Museum BI

Lukisan kedatangan kapal Belanda

Semua benda yang ada di dalam museum ini seolah-olah bercerita tentang kejadian masa lampau. Kejadian yang tidak boleh kita lupakan. Sejarah adalah kaca spion bagi kendaraan kehidupan bernegara. Jika tidak melihat spion tersebut, maka petaka akan datang. Sejarah bukan untuk dikenang, tetapi untuk di pahami, diambil hikmahnya. Agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pikiranku menerawang saat ini, otakku mencoba mereka ulang kejadian masa lalu dengan melihat semua pajangan ini.

Setelah puas berkeliling, aku melangkahkan kaki ke lobby, mengambil tas yang dititipkan saat masuk tadi. Saat di lobby, aku berpapasan dengan segerombolan anak-anak. Sepertinya mereka anak SMP yang sedang liburan sekolah, lalu pergi bersama teman-teman. Saat melihat anak-anak ini, otakku mengatakan “seharusnya semua anak-anak SD dan SMP di Indonesia dibiasakan untuk pergi ke museum”.

Sepertinya bagi anak-anak Indonesia, pergi ke museum adalah kegiatan yang kuno, setidaknya itulah yang aku rasakan saat aku adalah seorang siswa SMP. Tidak ada kampanye dari para guru yang menyerukan untuk pergi ke museum. Kalau kita berkaca kepada Eropa dan Amerika, anak-anak mereka dibiasakan untuk pergi ke museum. Museum sangat populer di kalangan siswa, pihak sekolah memang mengondisikan hal tersebut. Sedangkan di Indonesia, siswa SD dan SMP lebih suka bermain PlayStation, main di mall, dan Online di Facebook. Jujur, aku miris dengan keadaan di Indonesia.

Tidaklah terlambat bagi kita yang sudah bukan anak-anak lagi untuk pergi ke museum. Banyak hal yang bisa dipelajari di museum, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, menuntut ilmu itu dari buaian hingga liang kubur.

Setelah keluar dari museum yang dindingnya berwarna putih tersebut, aku melangkah menuju museum Fatahillah yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari Museum BI. Cukup membayar Rp3000 rupiah untuk masuk ke bangunan ini, untuk pelajar ada diskon, cukup membayar Rp1000. Harga yang affordable. Saya rasa tidak ada alasan bagi para siswa sekolahan untuk tidak mengunjungi museum ini.

Sekali lagi, aku melihat bangunan tua peninggalan kolonial Belanda. Bangunan ini dahulunya adalah kantor pemerintahan Hindia Belanda, disinilah kantor Pieterzoon Coen, Gubernur Jendral Hindia Belanda. Sekali lagi otakku berimajinasi, membayangkan Pieterzoon Coen melakukan aktifitasnya di gedung ini.

Dinding yang sangat tebal, memperkokoh bangunan ini. Tebal dindingnya empat kali dinding kost ku. Tinggi ruangannya mencapai 5 meter, dua kali tinggi ruangan kost ku. Pantas walaupun bangunan ini berumur ratusan tahun, masih bisa berdiri kokoh karena dindingnya yang sangat tebal. Gedung ini terdiri dari 3 lantai, masing-masing lantai diisi dengan benda-benda peninggalan zaman dahulu.

Tentunya semua perabot yang ada di dalam museum Fatahilah ini dahulunya tergolong perabot mewah. Didepan saya berdiri dengan gagah sebuah lemari kayu yang tingginya bahkan dua kali tinggi badanku, dengan ukiran yang menawan disetiap sisinya. Aku terlalu pendek untuk lemari ini, aku tidak bisa menggapai rak teratasnya. Lalu saya melihat meja makan dan tempat tidur yang dinikmati oleh Pieterzoon Coen dulu. Betapa mewahnya untuk ukuran zaman itu. Lagi-lagi otakku membayangkan segala perabot mewah ini dibuat dengan susah payah oleh pekerja pribumi, dan dinikmati oleh para penjajah ini. Sungguh ketidakadilan yang teramat sangat.

Perabotan di Museum Fatahillah

Perabotan di Museum Fatahillah

Suhu di dalam bangunan jauh lebih sejuk dibandingkan suhu diluar. Sehingga walaupun gedung ini tidak dilengkapi AC, masih terasa sejuk. Puas berkeliling bangunan ini, akhirnya kakipun terasa lelah. Istirahat di bawah pohon adalah pilihan yang tepat. Di halaman belakang museum ini ada beberapa pohon yang rindang, menyajikan oksigen bagi yang duduk dibawahnya. Saat sore menjelang, aku pulang dengan dengan perasaan yang puas. Ternyata ada setitik lokasi di Jakarta yang menyuguhkan hal yang jauh berbeda dengan sesaknya kota.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s