Motorbike Tour To Curug Malela,Gunung Halu,Jabar

Curug malela, terletak di daerah gunung halu, jawa barat, berjarak 80km dari kota bandung. Inilah destinasi petualangan saya kali ini bersama teman seperjuangan, Adi dan Haryus. Saya sudah lupa tepatnya tanggal berapa saya kesana, yang jelas bulan desember tahun 2010. Perjalanan kami tempuh dengan menggunakan dua sepeda motor, saya dan haryus berboncengan, sedangkan adi di satu sepeda motor. Perjalanan dengan sepeda motor merupakan perjalanan yang menuntut stamina bagus, apalagi seharian penuh.

Kami berangkat pukul 7 pagi dari Bandung, sengaja berangkat pagi-pagi agar sampai di lokasi sebelum zuhur. Rute perjalanannya adalah Bandung-Cimahi-Soreang-Cililin-Gunung Halu-Malela. Kami tidak tahu persis rute yang harus dilewati, sambil berhenti dan membeli minum dan cemilan di indomaret, kami bertanya kepada penjaga toko. Si penjaga toko dengan senang hati memberitahu bahwa jalannya luruuuuus saja dari sini bla bla bla. Lalu perntanyaan saya, bagaimana kondisi jalan disana, bagus atau biasa atau jelek. Dia menjelaskan bahwa jalan kesana jelek sekali, bahkan untuk sepeda motor sekalipun. Mendengar keterangan itu, saya sebenarnya menjadi ragu untuk melanjutkan perjalanan. Namun this road is this far, sayang sekali kalau berbalik arah hanya gara-gara perkataan mas mas ini, yang belum tentu benar juga. Lalu kami menguatkan hati untuk melanjutkan tur.

Setelah melewati cililin, di kiri dan kanan jalan adalah kebun teh yang terhampar luas dan hijau. Jalan disini mulai mengecil dan semakin jelek. Begitu masuk daerah gunung halu, jalan terasa semakin jelek, dan sangat deso. Di kiri tebing dan di kanan adalah jurang, dengan jalan yang berbelok-belok. Saya merasa perjalanan ini semakin berat, namun terasa semakin manantang. Kami melihat ada pondok jualan es kelapa muda, saat itu kebetulan aku merasa haus, terlebih melihat kelapa hijau nan molek, rasa hausku menjadi-jadi. Kami berhenti sejenak disini untuk istirahat dan meneguk es kelapa muda yang segar ini.

Kami lanjutkan perjalanan di jalanan yang mulai terasa makin lama makin parah, semakin banyak lobang dan bebatuan kecil di jalan. Sampai pada jalan yang sudah tidak ada aspalnya lagi, saya menjadi ragu apakah benar ini jalannya, atau jangan-jangan kita tersesat. Lalu saya bertanya kepada orang bengkel yang kebetulan saya lewati, dia mengatakan benar ini jalannya. Lalu saya bertanya berapa kilo lagi, dia menjawab sekitar 10km.

Semakin jauh, jalannya semakin mendaki dan jelek parah, seringkali haryus harus turun dari sepeda motor untuk mengurangi beban ketika melewati jalan yang mendaki dan sangat hancur parah. Sampai di sebuah tikungan yang ada rumah dan kedai kopi, saya berpikir bahwa tidak mungkin lagi melanjutkan perjalanan menggunakan sepeda motor, bisa-bisa peleknya bengkok atau bannya bocor, tentu saja saya tidak mau mengambil resiko itu. Saya menitipkan motor di kedai tersebut  dan membayar 5000 rupiah untuk satu motor. Ternyata tempat ini memang sering dititipi motor oleh orang yang menuju curug malela.

14km?

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Setelah berjalan sekian lama, saya melihat plang tertulis “curug malela 14km”. Melihat tulisan ini, saya langsung patah semangat untuk melanjutkan perjalanan, pasalnya saya sudah merasa capek jalan kaki di jalanan jelek yang menanjak. Tapi setitik harapan muncul ketika saya berpikir ini bukan 14km, tetapi 1,4 km. Tidak ada koma atau titik diantara angka 1 dan 4, sehingga ini sangat meragukan.

Saat nongkrong disini, ada dua orang berboncengan lewat dan terlihat seperti mahasiswa ITB juga, sebab dia memakai jaket elektro ITB. Lalu saya sapa dan ternyata mereka juga menuju curug malela. Lalu saya mempertanyakan berapa jauh jaraknya dari sini. Mereka mengatakan dengan pede, mungkin 1,4km lagi. Saya meyakinkan diri bahwa memang jaraknya 1,4km lagi. Lalu kami melanjutkan jalan kaki.

Tidak lama kemudian saya melihat tanda-tanda bahwa curug ini sudah dekat, ditandai dengan adanya saung yang ada motor sedang parkir, dan ada jalan menurun ke bawah. Melewati jalan becek, saya terpaksa melepas sandal. Lalu berjalan melintasi sawah dan jembatan kecil. Sungguh ini merupakan pemandangan yang sangat menyejukkan mata, tidak hanya itu, udaranya yang segar sunggu sangat terasa sampai ke paru-paru.

Tidak hanya sampai disini saja, kami harus berjalan menuruni tebing yang sebelah kanannya adalah jurang, kalau sempat terpeleset, maka jatuh ke jurang yang cukup tinggi. Akhirnya kami sampai di curug malela, sungguh bahagia rasanya begitu melihat air terjun ini. Airnya sangat deras, namun saat itu terlihat kurang bersih, karena saat itu musim hujan. Disini kami bertemu lagi dengan dua orang yang tadi, lalu kami berkenalan, salah seorang namanya Niam.

curug malela

Kami sampai disini sekitar pukul 12 siang, bertepatan dengan waktu zuhur. Beginilah keindahan curug malela, tempatnya yang terpencil jauh dari keramaian, menawarkan ketenangan, ingin rasanya menghabiskan hari menikmati suasana ini.

Satu hal yang terlupakan adalah kami lupa membeli perbekalan makanan, yang ada hanya dua bungkus snack dan satu botol air minum. Kami terpaksa menahan lapar, apa mau dikata.

Karena saat ini musim hujan, airnya keruh dan deras, sehingga tidak bisa berdiri dibawah air terjun dan berjalan mengarungi sungai dibawahnya karena terlalu berbahaya. Jadi saya mengarungi daerah yang arusnya tidak terlalu deras dan relatif dangkal.

Setelah puas menikmati suasana alam yang masih sangat natural ini dan berfoto, kami berbalik sekitar pukul 2.30pm. Kami bertarget keluar dari daerah gunung halu yang jalannya berbahaya tadi sebelum matahari terbenam. Saat balik, kami bareng dengan dua orang tadi. Sesampai di kedai tempat penitipan sepeda motor tadi, kami menikmati kopi panas dan beberapa gorengan untuk mengisi perut kami yang lapar. Disini saya ngobrol banyak dengan Niam dan temannya.

Saat kami memutuskan untuk start jalan, ternyata ban motor Niam bocor, satu hal yang saya takutkan sebelumnya. Alhamdulillah ban motor kami baik-baik saja. Lalu Salah satu dari mereka turun ke bawah mencari tambal ban, dan itu cukup jauh (perjuangan yang berat), sementara itu, kami menemani Niam yang menunggu temannya tersebut. Alhamdulillah ada tambal ban di daerah sepi seperti ini. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan pulang.

Haryus yang saya boncengi merekam perjalanan kami bahkan saat berada di atas motor saat ini. Jalanan yang berbelok-belok dan pinggirnya yang dipenuhi tanah liat terlihat berbahaya. Secara tidak sengaja sewaktu di tikungan, saya terlalu ke pinggir dan melaju diatas genangan air yang bercampur tanah, licin, alhasil saya dan haryus jatuh dari sepeda motor. Kebetulan haryus sedang merekam, maka terekamlah proses terjatuh kami, LIVE!. Terlihat di rekaman, saya memakai helm sesaat sebelum kami terjatuh, alhamdulillah Allah menyelamatkan saya.

Posisi terjatuhnya sangat tidak menguntungkan bagi saya, haryus menimpa saya sehingga dia tidak terluka banyak, cuma sedikit luka di kaki, sedangkan saya, luka di kaki, lutut dan tangan. Untung dibelakang saya ada warga lokal yang sedang bersepeda motor, membantu saya dan haryus yang terjatuh. Lalu saya diboncengi ke tempat bidan. Ternyata si bidan tidak berada di tempat, yang ada hanya asistennya, ngga apa-apa, dari pada tidak sama sekali. Luka-luka saya terasa perih sekali, terutama yang di lutut, sehingga saya sangat kesakitan untuk menekuk lutut walaupun sedikit.

Karena kondisi ini, kami berganti formasi, saya yang semula memboncengi haryus, sekarang diboncengi oleh Niam. Sepanjang perjalanan saya hanya berharap bisa cepat sampai ke kost, dan besok pagi pergi ke dokter. Selama itu juga saya menahan luka yang terasa sangat perih, diperparah dengan kondisi cuaca yang gerimis. Lalu diperjalanan, sepeda motor adi bermasalah, cover roda belakang copot dan menghambat roda belakang. Lengkap sudah penderitaan, kami berhenti dan mencari tali untuk mengikat cover tersebut.

Akhirnya kami sampai di kost pada pukul 9.30pm malam. Saya langsung menuju kamar dan tidur agar rasa perih luka tidak terasa. Besok harinya saya langsung pergi ke dokter.

3 thoughts on “Motorbike Tour To Curug Malela,Gunung Halu,Jabar

    • jelas kok. Ntar ada plang petunjuk arahnya. Nah, yg agak kurang jelas tuh dari cililin k curugnya. Yg penting ikutin jalan utama aja. ntar kalo ragu, tanya sm orang disana, pasti dikasi tau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s