Setsubun no Hi, Cerita Oni(setan) dan Oyakusho(petani)

Setsubun Event

Di jepang, setiap tanggal 3 (atau 4) Februari diperingati sebagai hari setsubun. Yang dimaksud dengan setsubun adalah waktu pergantian dari musim dingin dan musim semi dan pada hari ini biasanya ada kebiasaan melempar kacang kedelai. Berikut ini adalah kisah dibalik kebiasaan tersebut.

Jaman dulu kala, di sebuah desa ada seorang petani yang memiliki seorang anak perempuan yang cantik. Para pemuda di desa itu berdatangan ke rumah petani itu untuk memperistri anak perempuan tersebut. Suatu hari sang petani berkata bahwa barang siapa yang dapat mengusung penggilingan batu yang ada dirumah, maka akan diberikan anak perempuannya. Penggilingan batu tersebut sangat berat dan tidak ada seorangpun yang dapat mengangkatnya.

Suatu hari, seorang pemuda mendatangi rumah petani. Lengannya gemuk seperti gelondongan kayu dan badannya pun kekar. Pemuda itu bertanya kepada petani apakah benar jika ada yang dapat mengangkat penggilingan batu ini, maka anak perempuannya akan dikawinkan dengannya. Sang petani membenarkan hal tersebut dan pemuda itu mulai merangkul penggilingan itu, dan …

Dia berhasil mengangkat penggilingan batu tersebut diatas kepalanya tinggi-tinggi. Semua orang yang melihatnya terkagum, bahkan istri petani berpikir bahwa tidak mungkin ini dilakukan dengan tenaga manusia. Petani dan orang-orang yang ada dirumah semuanya terkejut. Pemuda itu menagih janji kepada sang petani itu, segera memanggul anak perempuan petani di bahunya dan berlari ke arah gunung dengan cepat.

Sang petani terkejut dan dengan berburu-buru mengejar di belakangnya. Sewaktu mengejar ke dalam hutan, tampaklah cahaya yang mana dimasuki oleh sang pemuda. Ternyata itu adalah tempat kediaman Oni (setan) dan banyak Oni berkumpul tengah berpesta. Melihat itu sang petani menyadari bahwa pemuda tadi adalah Oni yang datang sambil menyamar jadi manusia. Sang petani gemetaran karena takut namun karena mengkhawatirkan nasib anak perempuannya, dia memutuskan untuk mengintip dengan diam-diam.

Oni yang sudah mabuk mulai bernyanyi.

“Hore..hore..

Kepala ikan iwashi(sarden) / jangan sampai mendekati /

Nanti hidung kita bengkok / dan jancurlah kita /

Daun hiiragi / jangan sampai mendekati /

Kalau kena ke mata, hancurlah mata kita.

Hore..hore..hoooreee….”

Kumpulan Oni bertepuk tangan sambil bernyanyi riang gembira. Sang petani memperhatikan hingga menghapal nyanyian Oni tersbeut. Oni sambil riang gembira juga menyuruh anak perempuan petani untuk ikut menyanyi. Anak perempuan petani bernyanyi dengan suaranya yang indah dan merdu.

Nyanyian anak perempuan petani

Baik serangga maupun tikus tidurlah/

Baik sapi maupun kuda tidurlah/

Anak-anak pun beristirahat dan tidurlah/

Oni-Oni mendengarnya dengan terpesona, lalu mulai jatuh tertidur. Akhirnya mereka mendengkur keras dan para Oni semuanya tertidur dengan nyenyak.

Melihat semua Oni tertidur, sang petani mendekati anak perempuannya dan menyarankan untuk melarikan diri saat itu juga. Kemudian anak perempuan petani mengambil sebuah tongkat jarak jauh senri milik oni, karena jika tongkat itu dipukul sekali, maka dapat membawa mereka pergi kemana saja. Lalu sang petani dan anak perempuannya manaiki tongkat besi dan memukulkannya sekali.

Dalam sekejap keduanya telah tiba di rumah. Mereka menceritakan bahwa baru saja melarikan diri dari kediaman Oni, dan orang-orang dirumah khawatir Oni akan melakukan pembalasan. Namun sang petani menenangkan orang di rumah karena dia telah mendengar apa saja yang tidak disukai Oni. Dia menyuruh orang dirumah untuk segera menancapkan kepala ikan sarden dan daun hiiragi di atap pintu masuk. Lalu, nenek juga mengusulkan untuk menyiapkan kacang yang banyak, karena kacang dipercaya dapat mengusir Oni.

Beberapa saat kemudian, terdengarlah suara langkah oni yang datang mengejar dengan marah.

Oni (dengan marah) “Dimana anak perempuannya”.

Oni “kembalikan istriku”

Oni “Jika tidak dikembalikan, akan kami hancurkan”

Para Oni mulai mendekati pintu, tetapi

Oni (masing-masing) “Em..bau..bau..”

Oni “Ahhh..kepala ikan sarden”

Oni “Aduuh..aduhh..daun hiiraki”

Oni “Mata tertusuk, hancurkan, hancurkan”

Para Oni tidak bisa masuk ke dalam rumah.

Petani “Itu..sekarang”

Para petani melemparkan kacang.

Oni (ribut) “Aduuh..aduuh..sakit.. Waaah…wahhh…kacang”

Oni “Huuua..takut..takut..”

Para Oni ribut, saling bertabrakan dan tergelincir.

Oni “lari..lari..”

Oni “Kalau kacang tidak bisa dilawan”

Oni “Tolong”

Sambil menangis, para Oni melarikan diri.

Sejak itu, pada hari setsubun kepada ikan sarden dan daun hiiraki ditancapkan di atas atap pintu masuk, dan ada kebiasaan melemparkan kacang kedelai.

Oni wa soto, fuku wa uchi.

Oni keluar, kebahagian dan keberuntungan masuk ke dalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s