Tour d’Jabar

Day 1

Tour d’jabar, ya, artinya keliling jawa barat. Setelah UAS terakhir di semester 8, saya dan teman2 backpacker langsung berangkat dari kampus. Saya masih ingat waktu itu saya sedang menjawab soal ujian, namun pikiran saya melayang kemana-mana, memikirkan perjalanan seru yang akan kami tempuh setelah ujian ini selesai. Saya keluar dari ruang sekitar pukul 5.00pm, dan langsung bergegas mengambil mobil rental yang sudah dibooking sebelumnya.

Jumlah kami pada tour ini lumayan banyak, yaitu 15 orang, bisa dikatakan hampir semua tim backpacker saya ikut pada trip ini, sehingga kami menggunakan dua buah mobil. Planning ini sudah direncanakan jauh2 hari, kira-kira 1 bulan. Saya sangat antusias dengan trip kali ini, sebab jalan yang akan kami tempuh sangat jelek namun kami rame, jadi bakal seru.

Kami berangkat dari Bandung pukul 7.30pm, menuju Surade, Jampang, Sukabumi Selatan. Dari Bandung ke  kota sukabumi, jalannya cukup mulus dan lebar. Apalagi jalan di malam hari, bisa ngebut. Selepas kota sukabumi, jalannya sangat jelek dan sempit, diperparah dengan jalan yang mendaki dan menurun, apalagi daerah yang dilewati adalah hutan dan kebun teh, jarang sekali terlihat rumah penduduk. Kondisi yang cukup menegangkan, yang saya takutkan adalah ban bocor di jalan yang seperti ini, jalan jelek mendaki dan tidak ada orang, bahaya sekali. Namun saya suka sekali nyetir disini, jalan berbelok-belok dan sepi, 60km/jam saat belokan tajam membuat beberapa penumpang saya mabok.

Kami sampai di Surade,Jampang pada pukul 2.30 dini hari. Kami menginap di sebuah losmen yang dikelola oleh saudara dari adi, salah satu tim backpacker kami. Disini kami menginap dengan biaya yang sangat murah, yaitu cuma 10.000/malam, tentu saja ini berkat Adi. Sesampai di losmen kami langsung tertidur pulas karena sudah capek.

Day 2

Curug Cikaso..

curug cikaso

Bangun pagi-pagi jam 7, sebenarnya masih belum cukup bagi saya, sebab malam sebelumnya saya kurang tidur untuk belajar ujian, tadi malam juga nyetir dan kurang tidur. tetapi dengan semangat jalan2  yang tinggi, hal tersebut jadi terlupakan, kantuk jadi hilang. Pagi ini kami disuguhi dengan teh hangat dan sarapan pagi khas jampang yaitu sambal jampang yang terkenal pedas namun maknyus. Kami sarapan bersama di lesehan yang dindingnya terbuat dari bambu, sungguh suasana yang damai.

Pagi sebelum saya bangun tidur, ternyata teman2 sudah pergi ke pasar untuk membeli bahan makan pagi dan bekal hari ini.

Destinasi pagi ini adalah curug cikaso, air terjun yang cukup tinggi dan deras. Dari losmen ke curug ini jaraknya sekitar 20 menit. Jalan menuju curug ini cukup jelek, namun karena jaraknya dekat dari losmen, jadi tidak masalah. Di lokasi, ada parkiran mobil yang cukup luas. Biaya masuk per orang adalah 10.000. Tempat ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat.

Dari tempat parkir, kita harus berjalan kaki melewati sawah yang terhampar luas, waktu itu pasca musim tanam, sehingga pemandangan kiri dan kanan adalah padi yang sangat hijau, sangat sejuk di mata. Sesampai di lokasi air terjun, saya sangat terkesan karena keindahannya, saya tak tahan untuk segera mencebur ke sana. Wah, airnya dingin, segar sekali. Berdiri di bawah air terjun berasa dipijit, enak sekali. Setelah puas disini, kami balik ke losmen untuk persiapan destinasi berikutnya.

Pantai cibuaya dan ujung genteng..

Pantai cibuaya

Sebelum berangkat ke curug cikaso, tadi pagi kami minta tolong sama Ibu penjaga losmen untuk dibuatkan bekal. Kami berencana untuk bakar ikan di malam hari, jadi kami bawa peralatan bakar, nasi, dan bumbu komplit.

Sekitar pukul 11 siang, kami berangkat ke pantai cibuaya. Pantai ini terkenal dengan pasirnya yang putih, dan memang terbukti setelah kami sampai disana. Kebetulan saat kami sampai disini, laut sedang surut, sehingga kami bisa melihat hewan-hewan laut seperti karang, bulu babi, timun laut dsb.

Disini terdapat pasar ikan, kami membeli beberapa ekor ikan disini untuk dibakar saat makan malam nanti.

Perjalanan kami lanjutkan menuju ujung genteng, tujuan utama kami adalah ikut serta dalam pelepasan baby penyu. Beruntung sekali hari ini ada pelepasan penyu jam 5pm, beberapa menit sesudah kami sampai di lokasi.

pelepasan penyu

Jalan dari pantai cibuaya menuju pantai pelepasan penyu tidak layak dilewati mobil, sebab jalannya adalah pasir dan banyak cekungan yang kalau hujan akan terisi air dan menjadi lumpur. Sangat beresiko bagi mobil jenis avanza yang kami kendarai. Untung hari ini tidak hujan dan cerah, sehingga kami dapat sampai di pantai penyu tepat pada waktunya.

Ada banyak baby penyu yang akan dilepas ke pantai, masing2 kami mendapatkan dua ekor penyu. Saat petugas memberikan aba-aba, kami secara serentak melepas penyu ini untuk mengarungi hidup baru di laut sana. Dengan kakinya yang masih lemah, baby penyu ini berusaha keras untuk berjalan ke bibir pantai dan menerjang kerasnya ombak. Begitu berat perjuangan anak penyu ini untuk hidup. Ini menjadi sebuah pelajaran tersendiri bagi saya, anak penyu tersebut tidak pernah menyerah untuk masuk ke dalam laut, walaupun ombak menyapu tubuhnya yang mungil kembali ke laut, namun dia tetap kembali mencoba sampai dia benar2 tidak bisa berjalan lagi, sungguh momen yang sangat mengharukan..

bakar ikan

Waktu menunjukkan sekitar pukul 6.30pm, kami balik menuju pantai cibuaya melewati jalan jelek tadi. Sesampai di pantai cibuaya, kami mencari spot yang bagus untuk bakar ikan. Lalu kami mengeluarkan amunisi, yaitu perlengkapan pemanggangan, bumbu2, nasi yang telah dipersiapkan tadi pagi. Tidak lupa untuk mengeluarkan gitar, bakar ikan sambil bermain gitar membuat suasana yang bebeda dan eksotik.

Malam ini sungguh menyenangkan, makan malam dengan ikan yang dibakar sendiri, apalagi perlengkapannya lengkap, jadi semakin maknyuss..

Setelah selesai makan malam, tiba-tiba hujan! Kami langsung berkemas dan bergegas pulang. Ada hal yang paling saya cemaskan kalau hujan, yaitu jalan jelek yang harus dilalui. Di depan, muara sungai kecil yang harus diterobos mobil, kalau hujan bisa-bisa airnya deras dan kami tidak bisa menerobos air tersebut. Ini adalah jalan satu satunya, tidak ada jalan keluar lainnya. Namun setelah menerobos muara kecil ini, kami masih harus menemukan jalan kecil menuju losmen yang saat ini sangat gelap karena tidak ada pencahayaan, hanya lampu mobil. Diperparah oleh hujan yang deras, sehingga jarak pandang pun sangat dekat.

Saya memacu mobil sekencang-kencangnya, takut terperosok kalau pelan. namun jalan berakhir buntu, di samping kami batuan karang, di depan adalah bibir pantai yang semakin pasang. Tidak ada pilihan selain memutar balik mobil. Tapi masalahnya mobil ini sudah terpojok, dan banyak sekali batu karang yang menghadang ban mobil. Sangat sulit untuk memutar balik mobil, ban mobil mulai terperosok. Kami semua turun dan teman2 berusaha mendorong mobil, malam itu kami seperti orang di iklan rokok markopolo, haha. Saya sempat membayangkan kalau tidak berhasil, mobil ini akan terendam air pasang dan terbawa arus laut, dan bisa sampai australia, hahaha. Alhamdulillah saya berhasil memutar balik kedua mobil tersebut. Lalu adi berjalan dan mencari jalan. Akhirnya kami berhasil!! Hari ini sungguh pengalaman yang luar biasa.

Day 3

pantai batu karas

Sekitar pukul 9 pagi kami berangkat dari jampang menuju pantai ratu, untuk mengunjungi kuil Quan In. Jalan yang kami tempuh berbelok-belok, dan saya suka pemandangannya. Di Kuil ini kami hanya melihat-lihat, tidak ada sesuatu yang spesial disini.

Perjalanan kami lanjutkan ke pantai ratu. Sesampai di pantai ratu ini, kami merasakan gempa berkuatan sekitar 5 skala richter. Saya sempat merasa was was juga, takut ada gempa susulan, apalagi di daerah tepi laut, ada tsunami yang mengancam. Untung saja tidak ada gempa susulan.

Sekitar pukul 1 siang, kami sampai di pantai batu karas. Disini ada banyak batu keras, makanya dinamakan pantai batu karas. Ombak di pantai ini cukup besar, namun pasir pantainya tidak begitu bagus. Jadi hal yang paling seru disini adalah main ombak. Namun sebelum mencebur ke laut, kami sempatkan diri dulu bermain bola pantai.

Sudah sore, saatnya balik ke bandung. Separuh dari kami stop sampai di bandung, sedangkan saya dan beberapa lainnya meneruskan perjalanan ke Banjar, untuk mengunjungi green canyon. Sesampai di sukabumi kami makan malam, dan disini terjadi insiden kecil, yaitu hilangnya dompet kuncoro.

Kami sampai di bandung pukul 11 malam, dengan mata yang mengantuk, saya melanjutkan perjalanan ke Banjar, kami akan menginap di rumah ginanjar. Sampai di banjar pukul setengah 3 dini hari.

Day 4

green canyon

Pagi pukul 8, setelah sarapan, kami berangkat ke green canyon. Sesampai di lokasi, kita harus bayar uang masuk dan sewa perahu untuk menuju green canyon. Untung ada Adi, yang bisa menawar harganya, kami dapat harga yang murah untuk sewa perahu dan pelampung. Jarak tempuh menggunakan perahu cuma sekitar 5 menit. Lalu di sini kami melakukan body rafting, dengan kedalaman sekitar 5 meter.

Lompat dari batu besar ke dalam sungai sungguh menguju adrenalin. Rasanya bahagia sekali, setelah berhasil menakhlukkan rasa takut tersebut.

Setelah puas bermain body rafting, ini saatnya kami kembali ke bandung. Kami sampai di Bandung sekitar pukul 12 malam.

Tour kali ini sunggung menyenangkan, pengalaman yang luar biasa bersama teman2 backpacker.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s