Backpacking Asia Tenggara: Vietnam

Day 1

Vietnam Dong

My first destination adalah Ho Chi Minh City, atau nama lamanya adalah Saigon. Saya berangkat dengan 2 orang sohib, Kamal dan Reza. Saya terbang dengan AirAsia tiket promo, hanya Rp 550.000/pax, berangkat dari Jakarta langsung ke Saigon. Ini kali pertamanya saya pergi ke luar negri bersama teman-teman, perasaan agak deg2an juga, dengan misi keliling asia tenggara, yang notabene belum satupun diantara kami yang pernah melakukan itu. Namun dengan semangat 45, saya eksekusi misi ini. Kami takeoff pukul 16.35 dan sampai di Saigon pukul 19.30 LT. Kebetulan kami berkenalan dengan salah satu orang indonesia yang sepesawat, ternyata dia mempunyai bisnis di saigon, sehingga sering bolak balik JKT-SGN. Utung saja, jadi kami banyak diberi informasi, bagi orang yang pertama kali ke sini, dapat informasi sebanyak itu berasa dapat angin segar.

Hal yang pertama dilakukan di bandara Tan So Naht adalah menukarkan uang dolar dengan mata uang vietnam, Dong. USD1 ekivalen dengan VND21.000. Dengan menukarkan uang USD100 saja kita sudah mendapatkan VND2.100.000. Langsung berasa kaya. Lalu dari bandara ke penginapan di jalan Pham Ngu Lao, kami naik taxi bareng mas yang baru kenal tadi (sebenarnya ada satu lagi, jalan blue vinh, sejajar dengan pham ngu lao). Taxi dari bandara flat untuk tujuan kemana saja, yaitu VND150.000. Kalau rame2, lebih murah naik taxi. Sesampai di Pham Ngu Lao, kami bingung memilih penginapan, ada banyak sekali penginapan disana. Akhirnya saya mendapat penginapan dengan harga USD20/kamar 3 ranjang, dengan fasilitas AC, kulkas, internet, TV kabel, dan air panas. Cukup murah untuk harga segitu. Lokasi ini juga dekat dengan Ben Tanh market.

Setelah dapat penginapan, kami makan malam di warung masakan india, biasanya masakan india ada label halal, tapi sebenarnya tidak menjamin juga. Tapi apa boleh buat, kalau terlalu memilih makanan, bisa ngga makan. Saat  menyebrang jalan, untuk pertama kalinya berasa canggung, sebab disini kendaraan melaju di sebelah kanan jalan, kebalikan dengan di indonesia. Jadi kalau menyebrang jalan, lihat kiri dulu baru kanan. Belum lagi sepeda motor yang menjamur di jalan, memaksa kita harus ekstra hati2 sewaktu menyebrang.

Day 2

Bangun pagi2 untuk memaksimalkan waktu. Tujuan pertama adalah reunification palace. Ini adalah museum yang menandai bersatunya vietnam utara dan vietnam selatan, berkat vietnamnese uncle yaitu Ho Chi Minh. Semua orang vietnam mengaku Ho Chi Minh adalah uncle mereka. Di reunification palace juga terdapat sisa peninggalan zaman perang vietnam, mulai dari logistik sampai peralatan perang. Reunification palace ini merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Tidak ada biaya masuk ke museum ini.

Reunification Palace

Lokasi kedua adalah War remnant museum, lokasinya berdekatan dengan reunification palace, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Btw, di saigon sangat nyaman untuk berjalan kaki, udaranya masih bersih, tidak seperti jakarta. Lalu suasana kotanya pun bersih, tidak banyak sampah berserakan, tidak ada preman di pinggir jalan atau di perempatan.

War Remnant Museum

War remnant museum adalah museum sisa perang vietnam dengan USA. Disini diceritakan betapa pedihnya perang vietnam dan betapa kejamnya USA saat itu, melalui benda2 sisa perang tersebut. Disana terdapat bangkai senjata api, pesawat tempur, tank baja, replika penjara yang mengenaskan, guilotin, dll. Masuk ke museum ini kita akan merasakan pelajaran sejarah perang vietnam. Untuk masuk ke museum ini ada fee sekitar VND15.000.

Lokasi berikutnya adalah Notre Dame Catedral. Katedral ini merupakan peninggalan pemerintah prancis saat menjajah vietnam. Hal itu bisa dilihat dari arsitektur gaya prancis abad pertengahannya. Disini merupakan tempat yang bagus untuk foto2, bahkan ada yang fot prewedding disini.

Notre Dame Cathedral

Lokasi selanjutnya adalah Bou Dien Post Office. Ini adalah kantor pos terbesar di vietnam, peninggalan zaman penjajahan dulu. Hal itu juga bisa dilihat dari arsitekturnya, gedung gaya eropa. Saya tidak melewatkan kesempatan untuk membeli postcard yang ujung2nya saya kirim ke alamat kost saya sendiri, untuk kenang-kenangan, bahwa saya pernah ke saigon. Kebetulan saya hobi mengoleksi postcard dari teman2 yang di luar negri.

Bou Dien Post Office

Saat jalan kaki untuk ke Benh Than market, kami menyempatkan diri untuk duduk sejenak di taman kota, terletak dekat notre dame cathedral. Taman ini menjadi tempat nongkrong anak muda di sore hari. Disini juga banyak jajanan tradisional yang patut dicoba. Saya membeli sebuah jajanan yang saya lupa namanya apa, rasanya cukup enak dengan harga yang cukup murah, 10.000VND. Kami nongkrong di taman sambil makan jajanan ini.

Jajanan Tradisional

Sore harinya waktu yang tepat untuk duduk santai di depan ben tanh market. Disinilah anak muda vietnam menghabiskan sore sambil bermain permainan tradisional. Namun sebelum itu, kami belanja dulu di benh than market, membeli kaos dan suvenir untuk diri sendiri maupun untuk oleh2. Penjual di pasar ini beragam, ada yang orang asli vietnam, ada juga orang malaysia. Untuk belanja disini kita harus pandai2 menawar, kalau menawar harus ramah dan sambil bercanda, dengan begitu pasti anda akan mendapatkan harga murah.

Sore hari di depan Benh Than market

Kehidupan malam di Pham Ngu Lao sangat terasa, begitu matahari terbenam, cafe2 dan tempat party langsung menggelar acaranya. Kalau mau mencoba cewe vietnam, disinilah tempatnya. Jika anda berjalan kaki di sepanjang jalan itu, maka anda akan sering ditawari, bahkan ada katalognya.

Day 3

—Diceritakan di bagian Cambodia.

Day 4

—Diceritakan di bagian Cambodia.

Day 5

Tunnel Hole

Setelah balik dari Phom Penh Cambodia, selanjutnya adalah melengkapi misi keliling Vietnam. Hari ini kami ke Chu Chi Tunnel. Chu Chi tunnel adalah terowongan bawah tanah, yang lebih mirip dengan lobang cacing, tempat persembunyian dan gerilya tentara vietcong berperang melawan america. Kami mengambil paket tur yang disediakan oleh travel agent di jalan pham ngu lao. Kalau dibandingkan, biaya paket dengan biaya kalau kita pergi sendiri, jatuhnya sama saja, sebab akses ke chu chi tunnel tidak dilalui oleh angkutan umum biasa, tetap harus menyewa taksi. Kelebihan menggunakan paket tur ini adalah kita dapat guide yang menjelaskan semua dan kita juga dapat banyak teman.

Terowongan ini sempit sekali, namun total panjangnya mencapai 120km. Terowongan hanya muat dilalui oleh satu orang. Dulunya terwongan dibuat hanya dengan menggunakan alat seadanya dan tangan. Banyak sekali cerita yang menyertai tunnel ini, yang semua itu dijelaskan oleh tour guide kami. Saya dan Reza mencoba menelusuri terowongan yang sempit ini, ternyata memang tunnel ini sempit sekali, hanya muat dilalui oleh satu orang. Namun terowongan ini sudah diperbesar, tidak bisa dibayangkan betapa sempitnya terowongan ini pada saat perang vietnam dulu.

Disini juga diperlihatkan sisa-sia perang, seperti tank yang bom, crater bekas bom pesawat, tempat pembuatan senjata dan amunisi, ranjau khas vietcong, dll. Tentara vietcong tidak punya pasokan amunisi, sehingga mereka berkreasi dengan membuat amunisi dari rudal amerika yang tidak meledak. Rudal tersebut dipotong menggunakan gergaji besi sederhana, betapa beratnya usaha untuk mendapatkan amunisi.

Another entrance

Inside the Tunnel

Ranjau khas Vietnam

Shoot the target

Mengunjungi tunnel ini secara keseluruhan membuat saya, reza dan kamal memahami dan seolah-olah merasakan perang vietnam. Banyak hal yang sebelumnya kami tidak kami ketahui, dengan mengelilingi tempat ini, kami merasakan pengalaman yang luar biasa berkesan.

Di akhir tur, ada spot untuk mencoba senjata yang digunakan tentara vietcong dulu, ada M30, AK47, Carbine, dll. Saya memilih M30, sejenis machine gun, dengan shoot mode burst, 3 peluru sekali tembak. Harga satu pelurunya adalah VND30.000, tapi harus beli 10, karena satu magasine terdiri dari 10 peluru. Bunyi dan hentakan saat menarik pelatuk senjata ini sungguh dahsyat, kalau tidak pakai tutup telinga, bisa budeg. Saya tidak tahu apakah tembakan saya mengenai sasaran tembak atau tidak, yang jelas saya excited mencoba machine gun ini.

Setelah puas mengelilingi chu chi tunnel, waktunya balik ke Saigon. Malam harinya saya balik ke Jakarta karena ada urusan mendadak.

Day 7

Setelah menyelesaikan urusan di Bandung, saya kembali ke Vietnam. Berhubung Reza dan Kamal terus melanjutkan perjalanan selagi saya di Bandung, saya melewatkan satu kota destinasi, yaitu Da Nang. Hari ini mereka sedang di perjalanan menuju Hanoi. Mereka sampai di Hanoi sore hari ini, sehingga saya harus menyusul mereka langsung ke Hanoi menggunakan pesawat.

Saya berangkat menggunakan AirAsia sore, sampai malam di Saigon. Sebelum balik ke Jakarta, saya sudah membeli tiket pesawat Vietnam Airlines Saigon-Hanoi, keberangkatan besok pagi pukul 5.00am. Jadi saya memutuskan untuk tidur di Bandara Tan Son Nhat sembari menunggu keberangkatan besok pagi.  Untung ada satu orang yang senasib dengan saya, awalnya saya mengira dia bule, setelah diajak ngobrol ternyata dia orang Indonesia, seorang photographer. Jadi saya ada teman untuk menunggu pagi datang.

Day 8

Pagi pukul setengah 6, saya take off dengan pesawat Vietnam Airlines. Saya berpacu dengan waktu, sebab saya harus sampai di hotel tempat Kamal menginap pukul 7.15, karena kami telah memesan paket tur ke Ha Long Bay yang berangkat pukul 7.30. Begitu sampai di Bandara Hanoi, saya langsung saja mencari taksi dan menawar harga. Akhirnya saya deal dengan harga USD11, harga yang normal mengingat jarak Bandara ke kota memang agak jauh.

Saya sampai tepat waktu, begitu saya sampai, bis yang akan mengangkut kami tiba. Barang2 saya titip di resepsionis hotel, dan langsung naik ke bis. Suhu di Hanoi sangat dingin, saat itu sekitar 12 celcius, cukp dingin untuk membuat saya menggigil. Perjalanan ke HaLong Bay memakan waktu sekitar 3 Jam.

Sayangnya waktu kami datang, cuaca tidak cerah, langit kelabu, disebabkan oleh musim dingin di Cina. HaLong Bay akan terlihat lebih indah jika cuaca cerah. HaLong Bay adalah teluk kecil yang di dalamnya terdapat banyak pulau batu kapur kecil, seperti yang kita lihat di film monkey king. Rombongan kami naik di satu kapal, di dalam kapal ini kami makan siang dengan menu ikan, dan kebetulan kami satu meja dengan orang jepang. Perjalanan yang sangat menyenangkan.

At Boat Ha Long Bay

Kayak-ing

Bukit Monkey King

Goa Ha Long

Setelah jauh ketengah, kami berhenti di dermaga kecil. Disini kami ditwari bermain kayak atau boat trip keliling batu-batu kapur. Kamal dan Reza memilih boat trip, sedangakan saya memilih bermain kayak. Air laut di teluk ini sangat tenang, sehingga sangat aman untuk bermain kayak. Mutar-mutar menggunakan kayak lebih menyenangkan, bebas dan dapat capeknya mendayung. Satu kayak harga sewanya USD3, cukup muhal untuk 15 menit.

Lalu kami lanjut ke destinasi berikutnya, yaitu goa eksotis yang terletak di pulau kecil. Goa ini sudah diberi lampu berwarna warni, sehingga terlihat lebih menarik. Sebenarnya ada jalur tracking, namun saat itu sedang ada pekerjaan sehingga kami tidak bisa melewati jalur tersebut.

Kami balik sore hari dan sampai di hotel sekitar pukul 6 sore. Sampai di hotel saya langsung tidur, dengan kondisi yang sangat mengantuk.

Day 9

Kamal dan Reza telah berkeliling kota Hanoi, jadi saya harus berkeliling sendirian. Pertama, saya mengunjungi Ho Chi Minh Mussoleum. Di sini lah mayat ho chi minh disimpan, diawetkan. Saat masuk ke museum ini tidak boleh bersuara sedikitpun, karena mereka bilang itu dapat mengganggu tidurnya. Saya melihat dengan mata dan kepala mayat Ho Chi Minh secara langsung.

Ho Chi Minh Mussoleum

War Remnant Museum and Hanoi Tower

Selanjutnya saya mengunjungi pagoda dengan tiga kaki. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan pagoda ini, entah kenapa orang ramai mengunjunginya. Lalu saya beranjak ke Ho Chi Minh museum, dengan harga VND15.000 di dalam museum ini terdapat banyak peninggalan perang vietnam. Karena sendirian, saya terpakasa foto diri sendiri, tapi untungnya selalu ada bule yang berbaik hati menawarkan untuk take picture of me.

Next destination adalah War Remnant museum dan Hanoi tower. Disini terdapat bangkai pesawat amerika dan peralatan tempur lainnya. Mirip dengan War Remnant museum yang ada di Saigon. Hanoi tower sendiri dulunya digunakan sebagai watch tower untuk area kota Hanoi.

Sore hari, kami berangkat menuju Vientiane, Laos. Kami berangkat dengan bis sleeper, harga tiketnya sekitar USD11.

Continued to Laos part..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s